Asing Masih Kabur-Kaburan dari RI, Outflow Tembus Rp 6 Triliun

2 hours ago 2

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

26 January 2026 09:50

Jakarta, CNBC Indonesia - Arus modal investor asing kembali keluar dari pasar keuangan Tanah Air sepanjang pekan lalu, seiring meningkatnya ketidakpastian global. 

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) sepanjang periode perdagangan 19-22 Januari 2026, investor asing tercatat membukukan penjualan bersih (net outflow) sebesar Rp5,96 triliun. Outflow ini sekaligus menjadi arus keluar modal asing dalam dua pekan beruntun. Arus keluar ini terjadi merata di ketiga instrumen utama pasar keuangan dalam negeri, mulai dari saham hingga surat utang pemerintah.

Pada periode tersebut, asing tercatat net sell sebesar Rp2,67 triliun di pasar saham, Rp1,44 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN) serta Rp1,85 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Komposisi ini menunjukkan investor asing cenderung mengurangi eksposur secara luas di awal 2026 ini seiring meningkatnya kehati-hatian di tengah ketidakpastian global.

Sejalan dengan arus modal yang berbalik keluar, indikator risiko Indonesia juga ikut naik. Premi Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun per 22 Januari 2026 tercatat 73,28 basis poin (bps), meningkat dibandingkan posisi 70,86 bps pada 15 Januari 2026.

Kenaikan CDS menandakan persepsi risiko investor global terhadap aset Indonesia sedikit meningkat, meski levelnya masih relatif rendah secara historis.

Secara kumulatif sepanjang tahun 2026 hingga 22 Januari, berdasarkan data setelmen, nonresiden masih tercatat beli neto Rp8,02 triliun di pasar saham dan Rp1,89 triliun di pasar SBN.

Namun, arus dana di SRBI masih berada di zona negatif dengan jual neto Rp2,67 triliun, mencerminkan tekanan pada instrumen moneter masih berlanjut meski asing mulai akumulasi di saham dan SBN secara year-to-date.

Dari sisi eksternal, meningkatnya ketidakpastian global masih menjadi salah satu faktor yang membuat investor cenderung lebih defensif.

Sejumlah isu geopolitik dan arah kebijakan Presiden AS Donald Trump kembali memicu kehati-hatian pasar, terutama setelah munculnya wacana pengambilalihan Greenland. Situasi makin sensitif ketika Trump sempat melontarkan ancaman kenaikan tarif terhadap negara-negara NATO yang dinilai tidak sejalan dengan rencana tersebut.

Ketegangan ini menambah premi risiko global dan membuat pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko, terutama ketika volatilitas meningkat.

Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait, serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan guna menjaga ketahanan eksternal perekonomian Indonesia.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
| | | |