Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga tembus Rp18ribu belakangan menjadi perhatian banyak pelaku industri. Namun bagi bisnis pendingin udara atau air conditioner (AC), tantangan biaya produksi ternyata tidak hanya datang dari pergerakan kurs.
Vice President PT Flife Technologies Indonesia, Nicky, mengungkapkan salah satu tekanan terbesar yang dihadapi industri AC pada awal 2026 justru berasal dari lonjakan harga tembaga di pasar global. Padahal material tersebut merupakan komponen utama dalam pembuatan unit AC.
"Pada awal tahun ini sebenarnya tembaga harganya naik sangat drastis. Dari akhir tahun 2025 di bulan Desember sampai Januari saja kenaikannya lebih dari 50% untuk harga tembaga. Sedangkan AC adalah sebuah produk yang memakai sangat banyak tembaga dalam unitnya," kata Nicky dalam media gathering Flife Indonesia, Senin (15/6/2026).
Kenaikan harga bahan baku tersebut memicu gelombang kenaikan harga di industri pendingin udara. Tekanan tidak hanya dirasakan di Indonesia, melainkan juga di berbagai negara yang bergantung pada rantai pasok komponen AC global.
"Jadi di saat itu bukan cuma pasar Indonesia, tapi secara global semua unit AC, semua merek, semua tipe itu naik harganya sangat drastis," ujarnya.
Meski demikian, Nicky mengklaim belum melakukan penyesuaian harga selama enam bulan pertama 2026. Perusahaan memilih menahan kenaikan harga di tengah tekanan biaya demi menjaga daya beli dan kenyamanan konsumen.
Di luar persoalan harga bahan baku dan kurs, perusahaan juga menghadapi tantangan lain yang dinilai lebih fundamental. Sebagai merek yang relatif baru di pasar pendingin udara Indonesia, yakni harus bersaing dengan pemain lama yang sudah puluhan tahun membangun reputasi.
"Target kita tahun ini adalah naik 100% dibanding tahun lalu. Tahun lalu Flev mencapai sekitar 50.000 unit dan target tahun ini adalah 100.000 unit. Jadi fokus kami sekarang adalah membangun kepercayaan customer dan memperkuat brand di Indonesia," ujar Nicky.
Sementara itu, Guru Besar Bidang Teknik Refrigerasi dan Tata Udara Politeknik Negeri Bandung (Polban) Andriyanto Setyawan menjelaskan bahwa kebutuhan AC di Indonesia saat ini diperkirakan mencapai antara 3 juta hingga 5 juta unit per tahun. Namun, kapasitas produksi nasional masih berada di bawah angka tersebut sehingga peluang pasar masih terbuka lebar.
"Indonesia ada di posisi lima sampai enam dunia dengan kebutuhan sekitar 3 sampai 5 juta unit per tahun. Sementara kemampuan produksi nasional untuk AC baru mencapai sekitar 2,4 juta unit per tahun," katanya.
Prospek industri AC diperkirakan masih akan terus tumbuh dalam jangka panjang. Antrianto menyebut sejumlah lembaga riset memproyeksikan pertumbuhan pasar pendingin udara global berada di kisaran 5,3% hingga 10% per tahun, didorong oleh kenaikan suhu bumi dan meningkatnya kebutuhan kenyamanan masyarakat.
"Dalam tiga dekade ke depan, diperkirakan akan ada sekitar 5,4 miliar unit AC yang terpasang di seluruh dunia. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan pendingin udara akan terus meningkat dan pasarnya masih akan terus berkembang," ujar Andriyanto.
(dce)
Addsource on Google






























:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4780552/original/013117000_1711071915-20240321BL_Kualifikasi_Piala_Dunia_2026_Timnas_Indonesia_Vs_Vietnam_Stok_49.JPG)






:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5503601/original/011289000_1771174822-IMG_2097.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495753/original/010090000_1770427969-persib_vs_malut-4.jpg)







