Diam-Diam Mossad Sadap Pemerintah AS, Trump Masuk Daftar

5 hours ago 7

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Intelijen Pertahanan Pentagon (DIA) telah menaikkan tingkat ancaman spionase Israel ke level tertinggi. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Israel terkait konflik di Timur Tengah.

Mengutip NBC News dan New York Times, penilaian tersebut telah diedarkan secara internal dalam beberapa pekan terakhir. Dokumen setebal tujuh halaman itu memuat grafik yang menilai kemampuan pengumpulan intelijen manusia dan teknis Israel "berada pada level kritis".

Sejumlah pejabat tinggi AS menjadi sasaran dalam aksi mata-mata tersebut. Para pejabat yang menjadi target antara lain negosiator utama Presiden Donald Trump dalam pembicaraan dengan Iran yang bernama Steve Witkoff. Pejabat kebijakan Pentagon Elbridge Colby serta salah satu wakil utamanya Michael DiMino juga turut menjadi sasaran.

Dilaporkan bahwa pejabat kontraintelijen AS kini semakin khawatir dengan aktivitas mata-mata Israel yang menargetkan negaranya. Aksi spionase ini diduga bertujuan untuk mendapatkan informasi mendalam mengenai pertimbangan pemerintahan Trump terkait masalah Iran dan Lebanon.

Laporan penilaian tersebut juga mengutip beberapa insiden spesifik namun para sumber menolak untuk mengidentifikasi kejadian tersebut. Seorang pejabat senior memberikan kesaksian mengenai agresivitas badan intelijen Israel sejak awal masa jabatan kedua Trump.

"Agresivitas layanan mata-mata Israel dalam mengawasi pejabat tinggi AS sejak awal masa jabatan kedua Trump sudah tidak terkendali," sebut pejabat senior tersebut kepada New York Times, dikutip Senin (8/6/2026).

Aktivitas mata-mata antarnegara sekutu sebenarnya merupakan hal yang lumrah terjadi. Namun aktivitas terbaru Israel kali ini dinilai telah melampaui batas kewajaran sehingga memicu peningkatan status ancaman.

Pihak Pentagon sendiri menolak memberikan komentar mengenai laporan ini. Di sisi lain seorang pejabat Gedung Putih menyatakan kepada NBC bahwa seluruh cerita tersebut adalah palsu.

Juru bicara Kedutaan Besar Israel di Washington juga membantah laporan itu dan menyebutnya bermotif politik. Pihak Israel menegaskan bahwa upaya intelijen mereka hanya ditujukan kepada musuh dan bukan kepada sekutu.

Laporan ini muncul di tengah meningkatnya gesekan antara Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Kedua pemimpin tersebut berselisih paham mengenai masalah Iran serta operasi militer Israel di Lebanon.

Gencatan senjata yang rapuh antara AS dan Iran sebenarnya telah dicapai pada awal April dan diperpanjang pada tanggal 8 Mei. Namun negosiasi kesepakatan yang lebih luas masih menemui jalan buntu terkait program nuklir Iran.

Pihak Israel secara terbuka mempertanyakan upaya diplomatik Trump tersebut dan Netanyahu justru mendorong tindakan militer baru. Pada saat yang sama Israel justru mengintensifkan operasi militernya di Lebanon sejak Maret lalu untuk melawan gerakan Hezbollah.

Trump awal pekan ini akhirnya mengakui laporan bahwa dirinya sempat memaki Netanyahu dalam percakapan telepon yang sengit mengenai aksi militer di Lebanon. Trump memberikan konfirmasi langsung mengenai umpatan kasarnya tersebut saat berbicara dalam acara siniar Pod Force One milik New York Post.

"Saya memang mengatakannya," ujar Trump saat ditanya mengenai umpatan kasarnya kepada Netanyahu.

"Saya sedikit terganggu dengan tindakannya yang terus-menerus bertempur dengan Lebanon," tambah Trump menjelaskan alasan di balik kemarahannya kepada pemimpin Israel tersebut.

Laporan sebelumnya menunjukkan bahwa Trump menuduh Netanyahu telah membahayakan negosiasi AS dengan Iran. Hal ini terjadi karena Israel terus melanjutkan operasi militernya di Lebanon.

Trump sempat menyatakan pada hari Senin bahwa pemimpin Israel dan Hezbollah telah menyetujui gencatan senjata. Departemen Luar Negeri AS kemudian mengumumkan pada hari Rabu bahwa Israel dan Lebanon sepakat menjalankan gencatan senjata dengan syarat penghentian total serangan Hezbollah.

Namun pertempuran ternyata masih terus berlanjut pada minggu ini. Serangan Israel di Lebanon selatan dan timur bahkan telah menewaskan serta melukai puluhan warga sipil pada hari Kamis menurut otoritas kesehatan Lebanon.

Pihak Iran sebelumnya menegaskan tidak akan menyetujui kesepakatan permanen dengan AS jika masalah Lebanon tidak diselesaikan. Iran juga mengancam akan meninggalkan meja negosiasi jika serangan Israel terus berlanjut.

(tps/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |