Salma Laiqa, CNBC Indonesia
09 September 2026 11:07
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) Malaysia ditutup melemah pada perdagangan Selasa (8/9/2026).
Kontrak acuan CPO untuk pengiriman November di Bursa Malaysia pada Selasa berakhir di level MYR4.976 per ton atau melemah 0,05%.
Pada perdagangan Rabu (9/9/2026), CPO dibuka di MYR4.974 per ton. Hingga sekitar pukul 09.53 waktu setempat, harga berada di kisaran MYR4.949-MYR4.950 per ton, atau turun sekitar 0,52% dari penutupan sebelumnya.
Minyak Nabati Rival Tekan Harga CPO
Pada penutupan Selasa, harga CPO bergerak nyaris datar. Pasar mendapat dukungan dari kekhawatiran cuaca El Nino yang berpotensi menekan produksi serta penguatan harga minyak kedelai.
Namun, pelaku pasar masih menunggu data permintaan dan pasokan Agustus dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB) yang dijadwalkan rilis pekan ini.
Memasuki perdagangan Rabu pagi, tekanan datang dari pelemahan minyak nabati pesaing. Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian turun 1,09%, sementara kontrak minyak sawit Dalian melemah 1,54%. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade juga turun 0,08%.
Pergerakan tersebut penting karena CPO bersaing langsung dengan minyak nabati lain di pasar global. Ketika harga minyak kedelai dan minyak nabati pesaing turun, CPO cenderung ikut mendapat tekanan agar tetap kompetitif.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak mentah membantu membatasi tekanan. Harga minyak naik untuk hari keempat berturut-turut setelah serangan baru di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan. Harga minyak yang lebih tinggi membuat CPO relatif lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Ringgit Malaysia juga melemah sekitar 0,22% terhadap dolar AS, sehingga CPO menjadi sedikit lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.
Dari sisi permintaan, data Komisi Eropa menunjukkan impor minyak sawit Uni Eropa pada musim 2026/2027 hingga 6 September mencapai 0,49 juta ton, turun 18% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Impor kedelai Uni Eropa juga turun 17% menjadi 2,18 juta ton.
Secara Teknikal, CPO Dekati Area Support
Melansir Reuters, harga CPO berpotensi menguji area support di sekitar MYR4.930 per ton. Menurut analis teknikal Reuters, jika level tersebut ditembus, penurunan dapat berlanjut menuju kisaran MYR4.876-MYR4.903 per ton.
Di sisi atas, harga masih menghadapi resistance di area sekitar MYR4.990-MYR5.032 per ton. Kegagalan berulang menembus area tersebut menunjukkan momentum penguatan mulai berkurang, meski tren harian secara lebih luas masih berada dalam kanal kenaikan.
B50 Jadi Penopang Permintaan Indonesia
Dari Indonesia, permintaan domestik menjadi salah satu faktor penting bagi pasar CPO. Indonesia telah menggunakan sekitar 10,7 juta kiloliter biodiesel berbasis sawit sejak Januari hingga awal September 2026, seiring implementasi campuran B50 secara nasional.
Penyerapan CPO yang lebih besar untuk biodiesel berpotensi mengurangi pasokan yang tersedia untuk penggunaan lain maupun ekspor. Secara teori, kondisi ini dapat membantu menopang harga CPO, sekaligus membuat kebijakan biodiesel Indonesia semakin penting dalam keseimbangan supply-demand sawit global.
(slm/slm)







































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336164/original/038669600_1788142068-WhatsApp_Image_2026-08-30_at_22.34.27.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9334366/original/000168800_1787837074-1000131582.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5405356/original/074050200_1762458033-1000096973.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336881/original/062566600_1788192972-1000510076.jpg)





