Jakarta, CNBC Indonesia - Xiaomi menghadapi tekanan baru di India. Setelah pangsa pasarnya terus merosot akibat persaingan ketat dengan Apple dan Samsung, produsen smartphone asal China itu kini direkomendasikan untuk menjalani investigasi terkait dugaan pelanggaran dalam model bisnis dan kepatuhan terhadap aturan investasi asing di India.
Rekomendasi tersebut datang dari Serious Fraud Investigation Office (SFIO), lembaga utama India yang menangani dugaan penipuan korporasi. Dokumen pemerintah yang ditinjau Reuters menunjukkan SFIO mengusulkan investigasi terhadap Xiaomi Technology India Private Limited beserta entitas terkait.
Usulan itu masih menunggu persetujuan Kementerian Urusan Korporasi India. Proses tersebut merupakan tahapan standar sebelum SFIO dapat memulai penyelidikan.
SFIO merekomendasikan agar investigasi menelusuri aliran dana serta memeriksa apakah Xiaomi telah memperoleh persetujuan investasi yang diwajibkan pemerintah India. Aturan tersebut menjadi lebih ketat setelah India meningkatkan pengawasan terhadap investasi asal China menyusul bentrokan perbatasan kedua negara pada 2020.
"Bagian terpenting dari investigasi yang diusulkan harus berupa pemeriksaan terhadap kepemilikan manfaat (beneficial ownership) dari investor asing dan entitas grup," tulis memorandum SFIO, dikutip dari Reuters.
SFIO juga meminta penyelidikan memastikan apakah kepemilikan manfaat, kendali langsung maupun tidak langsung, atau perubahan kendali telah diungkapkan dan memperoleh persetujuan sebagaimana diwajibkan.
"Investigasi SFIO secara terperinci direkomendasikan untuk dilakukan," demikian isi memorandum tersebut.
Seorang sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan pemerintah India sedang memeriksa memorandum yang disusun pada Mei dan kemudian ditinjau oleh Reuters.
Respons Xiaomi
Juru bicara Xiaomi mengatakan perusahaan belum menerima pemberitahuan atau komunikasi apa pun dari SFIO terkait rekomendasi tersebut. "Kami sangat mementingkan hukum yang berlaku dan selalu mematuhinya sepenuhnya," kata juru bicara Xiaomi.
Kementerian Luar Negeri China juga menanggapi kabar tersebut. Juru bicara Guo Jiakun mengatakan dirinya belum mengetahui situasinya ketika ditanya mengenai rekomendasi investigasi terhadap Xiaomi.
"Kami berharap pihak India memberikan lingkungan bisnis yang adil, transparan, dan tidak diskriminatif bagi perusahaan dari semua negara yang berinvestasi dan beroperasi di India," ujar Guo.
SFIO memiliki kewenangan untuk menangkap dan menuntut pihak yang terbukti melakukan pelanggaran. Namun, belum ada kepastian kapan Kementerian Urusan Korporasi akan memutuskan apakah investigasi tersebut dilanjutkan.
"Untuk kasus seperti ini tidak ada batas waktu bagi kementerian untuk mengambil keputusan. Prosesnya bisa memakan waktu berbulan-bulan. Kementerian dapat menilai bukti belum cukup untuk melanjutkan atau mengizinkan SFIO memulai penyelidikan. Kementerian juga dapat meminta departemen lain untuk memeriksa masalah tersebut," kata Meghav Gupta, pendiri firma hukum India Consecro Law.
Aturan investasi asing yang diperketat pada 2020 mewajibkan investasi dari perusahaan China di India mendapatkan persetujuan pemerintah terlebih dahulu. Sejumlah perusahaan, termasuk Xiaomi, sebelumnya menyebut aturan tersebut menyebabkan proses investasi menjadi lebih lambat.
India pada tahun ini mulai melonggarkan sebagian pembatasan tersebut seiring New Delhi dan Beijing berupaya menjaga perdamaian di wilayah perbatasan. Rencana kunjungan Presiden China Xi Jinping ke India untuk menghadiri KTT BRICS pada akhir pekan juga dipandang sebagai upaya memperbaiki hubungan kedua negara.
Bisnis Xiaomi Tertekan
Investigasi SFIO menjadi tekanan tambahan bagi Xiaomi yang sudah menghadapi sejumlah persoalan di India.
Sejak 2022, Xiaomi belum berhasil membatalkan pembekuan aset rekening banknya di India senilai 55,51 miliar rupee atau sekitar Rp10,2 triliun. Pembekuan tersebut dilakukan lembaga pemberantasan kejahatan keuangan India terkait dugaan pengiriman uang ilegal, yang dibantah oleh Xiaomi.
Di saat yang sama, posisi Xiaomi di pasar ponsel pintar India terus merosot. Menurut Counterpoint Research, Xiaomi kini berada di posisi keempat dengan pangsa pasar 13%. Angka tersebut turun dari 19% yang sebelumnya dikuasai perusahaan.
Pendapatan Xiaomi di India pada 2025 juga tercatat sebesar US$2,52 miliar, turun 40% dibandingkan tiga tahun sebelumnya.
Dokumen SFIO menyebut rekomendasi investigasi terhadap Xiaomi berasal dari sejumlah pengaduan dan informasi yang diterima melalui Kementerian Perdagangan India.
SFIO juga meminta koordinasi dengan lembaga pemerintah lainnya untuk mengidentifikasi kemungkinan pelanggaran yang saling berkaitan.
Dalam memorandum tersebut, SFIO menyusun kerangka investigasi yang terdiri dari 21 poin, termasuk ruang lingkup, metodologi, dan rencana tindakan. Lembaga tersebut juga dapat memanggil para eksekutif perusahaan jika diperlukan.
SFIO akan memeriksa laporan keuangan dan laporan auditor yang disampaikan Xiaomi kepada pemerintah India untuk memastikan tidak terdapat salah saji material.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]






































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336164/original/038669600_1788142068-WhatsApp_Image_2026-08-30_at_22.34.27.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9334366/original/000168800_1787837074-1000131582.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9340905/original/042907900_1788529611-IMG_6511.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336881/original/062566600_1788192972-1000510076.jpg)






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9340290/original/025401600_1788499994-Raihan1.jpg)