Pantas RI Krisis Nakes, Menkes Ungkap 1.000 Dokter Sudah 3x Gagal Tes

5 hours ago 7

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyoroti salah satu masalah yang membuat Indonesia krisis tenaga kesehatan (nakes). Dia mengungkap masih tingginya jumlah dokter yang belum berhasil lulus uji kompetensi Konsil Kesehatan Indonesia (KKI) meski telah mengikuti ujian berulang kali. Bahkan, hampir 1.000 dokter tercatat sudah tiga kali mengikuti ujian namun belum juga dinyatakan lulus.

Hal itu disampaikan Budi dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI saat membahas sejumlah isu terkait pendidikan dan tenaga kesehatan pada Senin (8/6/2026). Budi mengatakan, persoalan peserta yang mengulang ujian atau retaker menjadi salah satu keluhan yang banyak diterima pemerintah dari kalangan dokter.

"Yang pertama adalah retakernya masih banyak sekali," kata Budi.

Berdasarkan data yang dipaparkannya, sekitar 63% peserta retaker telah mengikuti ujian kurang dari tiga kali. Namun, terdapat sekitar 37% peserta atau hampir 1.000 dokter yang sudah mengikuti ujian kompetensi sebanyak tiga kali tetapi belum lulus.

"Sudah kita lihat ada 63 persen yang ujiannya di bawah tiga kali, ada 37 persen, hampir 1.000, yang sudah tiga kali ujian tidak lulus-lulus," ujarnya.

Tak hanya itu, Budi mengungkapkan terdapat sekitar 297 dokter yang hanya memiliki satu kesempatan tersisa sebelum kehilangan hak kelulusannya apabila kembali gagal dalam ujian tersebut.

"Dan ada sekitar 297 yang tidak lulus sekali lagi, dia akan hilang haknya untuk lulus. Jadi ini masalah yang kita dengar dari lapangannya," kata Budi.

Budi menjelaskan, pemerintah sebenarnya sangat membutuhkan tambahan tenaga dokter untuk memenuhi kebutuhan layanan kesehatan nasional. Berdasarkan perhitungan Kementerian Kesehatan, Indonesia masih mengalami kekurangan sekitar 93.200 dokter umum.

Budi bilang, persoalan tingginya angka kegagalan dalam uji kompetensi perlu mendapat perhatian bersama. Ia juga menyoroti kemungkinan adanya persoalan kualitas pendidikan di sejumlah fakultas kedokteran.

Ia mencatat, data tingkat kelulusan peserta uji kompetensi dapat digunakan sebagai bahan evaluasi terhadap institusi pendidikan kedokteran.

"Kita menyarankan, kalau bisa itu dipakai sebagai feedback. Kalau ternyata banyak meluluskan, tetapi kemudian tidak lulus ujian kompetensi, ya harus dikurangi kuotanya sampai mereka benar-benar bisa memperbaiki kualitas pendidikannya," ujarnya.

Selain itu, Kemenkes juga menerima masukan dari para peserta retaker terkait biaya yang masih harus dibayarkan meski mereka tidak lagi mengikuti perkuliahan secara aktif. Budi mengatakan, sebagian peserta yang belum lulus masih diwajibkan membayar sejumlah biaya pembinaan maupun administrasi kepada kampus saat mengikuti ujian ulang.

Masukan lain yang diterima pemerintah adalah agar peserta yang gagal pada sebagian kompetensi tidak perlu mengulang seluruh materi ujian dari awal.

"Misalnya dari 10 kompetensi sudah lulus delapan, tidak lulus dua. Yang diulang jangan semuanya, yang diulang dua yang belum lulus saja," kata Budi.

Budi menekenakan, berbagai masukan tersebut tengah dibahas bersama Konsil Kesehatan Indonesia untuk mencari solusi yang tetap menjaga kualitas lulusan dokter sekaligus memberikan kesempatan yang lebih baik bagi peserta yang harus mengulang ujian kompetensi.

(hsy/hsy)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |