RI Sudah Produksi 423 Juta Ton Batu Bara Sampai Juli 2026

10 hours ago 7

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat total produksi batu bara Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026 telah mencapai 423 juta ton.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno menyebutkan bahwa total produksi tersebut terbagi untuk penjualan ekspor sebesar 270 juta ton dan pemenuhan pasar domestik sebesar 113 juta ton. Dan sisanya sekitar 39 juta ton disimpan sebagai stok.

Ia menjelaskan bahwa India dan China masih menjadi pasar utama tujuan ekspor batu bara Indonesia.

"Nah, pada tahun 2026 ini, kita total produksi tercatat 423 juta ton, dengan ekspor 270 (juta ton) dan domestik 113 (juta ton), di mana India dan China masih menjadi pasar utama ekspor Indonesia," katanya dalam acara 36 Tahun Dirgahayu Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), di JIExpo, Kamis (10/9/2026).

Tri memperhitungkan bahwa capaian produksi 423 juta ton tersebut setara dengan rata-rata produksi 60 juta ton per bulan, atau mengalami penurunan sebesar 8 juta ton per bulan dibandingkan rata-rata bulanan tahun sebelumnya.

Berdasarkan catatannya, pada tahun 2025, total produksi batu bara Indonesia tercatat mencapai 817 juta ton dengan rata-rata produksi bulanan sebesar 68 juta ton.

"Kalau kita bagi dengan angka 7, berarti 423 dibagi 7, maka produksi kita secara bulanan adalah sekitar 60 juta ton, atau mengalami penurunan sebanyak 8 juta ton per bulan. Jadi secara produksi untuk batu bara clear, kita turun 8 juta ton per bulan," paparnya.

Meskipun volume produksi bulanan mengalami penurunan, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor batu bara mencatatkan kenaikan. Per 31 Agustus 2026, PNBP batu bara tercatat sebesar Rp 66 triliun, meningkat dari posisi 31 Agustus 2025 yang sebesar Rp 59 triliun.

"Jadi secara produksi kita secara bulanan turun 8 juta, tapi secara PNBP kita naik Rp 7 triliun. Artinya setiap bulan kita mengalami kenaikan Rp 1 triliun dengan produksi turun 8 juta ton," jelasnya.

Dia pun memperkirakan total produksi batu bara hingga akhir tahun 2026 berada pada kisaran 720 juta hingga 722 juta ton, lebih tinggi dari target awal yang dipatok sekitar 600-an juta ton.

Dalam mengelola volume produksi, pemerintah menerapkan pendekatan produksi optimum (optimum production) yang menyeimbangkan kebutuhan pasar, kewajiban pasar domestik (domestic market obligation/DMO), pergerakan harga, logistik, dan keberlanjutan cadangan melalui penataan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

"Oleh karena itu, pendekatan kita adalah optimum production, di mana produksi ini harus diseimbangkan dengan pasar, kebutuhan pasar, DMO, kondisi harga, logistik, serta keberlanjutan cadangan. Dan itulah yang semangat dari penataan RKAB yang kita lakukan," tandasnya.

(wia) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |